Foklore seperti
apa yang dikatakan oleh Prof. James memiliki cakupan yang sangat luas. Foklore
tidak sama dengan tradisi lisan, baginya cakupan tradisi lisan sangat kecil,
hanya berupa cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyanyian rakyat. Lebih
dari itu, foklore memiliki cakupan yang lebih luas yang didalamnya termasuk
tarian rakyat dan arsitektur rakyat.[1]
Salah satu foklore yang terkenal di kalangan anak-anak adalah cerita rakyat.
Cerita rakyat
sudah menjadi bagian dari khazanah budaya dan sejarah yang dimiliki oleh setiap
bangsa termasuk Indonesia. Cerita rakyat juga bisa diartikan sebagai bentuk
dari ekspresi budaya suatu masyarakat melalui tutur bahasa yang berhubungan
langsung dengan berbagai aspek budaya serta nilai sosial dari masyarakat
tersebut. Berbicara mengenai foklore


