facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Traveling
    • Turkey
    • Indonesia
    • Foodies
  • About
  • Contact
  • Download

Goresan Nia



Melanjutan kisah perjalanan bagian satu, jadi kami sampai di Bandara Attaturk 22 Oktober 2018 sekitar pukul 1 dini hari waktu setempat. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari mushola karena kami belum sempat sholat maghrib di Oman, sehingga memutuskan untuk menjamak sholat maghrib dan isya’. Usai sholat saya, fitra dan mba luki beristirahat sebentar karena merasa jetleg, punggung linu pasca penerbangan panjang.
Setelah merasa cukup, kami segera beranjak menuju counter pembelian nomor sesuai dengan instruksi dari seorang kawan yang sedang menempuh pendidikan di Turki. FYI tidak semua tempat umum disini memiliki fasilitas wi-fi, jadi mau ngga mau harus beli nomor. Counter pembelian nomor ini tersebar banya di sekitar bandara. Tidak membutuhkan waktu lama kami segera menuju counter.  Harga yang tersedia juga bervarisai. Memang kalau dibandingkan dengan Indonesia pasti lebih mahal. Mulai harga 100 TL dan seterusnya. Akhirnya setelah menimbang dan untuk meminimalisir pengeluaran, kami membeli 1 nomor untuk bertiga. Saya lupa harga pastinya berapa, kalau tidak salah sekitar 220 TL untuk 6 gb paket data. Satu nomor untuk 3 orang. Biar bisa menghemat katanya. Dan yang penting bisa untuk sekedar mengirim pesan WA kepada sanak keluarga di tanah air.
Selesai dengan segala urusan kartu, segeralah kami menuju terminal metro. Oh iya yang dimaksud metro di Turki adalah semacam LRT. Beberapa langkah dari pintu keluar bandara, gila ini suhu. Buat saya dan kawan yang terbiasa dengan suhu Surabaya, seketika langsung menggerutu. “ah sial, dingin sekali tempat ini. Sepertinya kita salah bawa baju juga.” Maklum waktu itu kami hanya membawa baju ala kadarnya. Tidak ada wintercoat. Karena kami pergi ke Turki pada bulan Oktober – November yang musim disana adalah musim gugur. Karena kesoktahuan yang tidak berfaedah ini, musim gugur ya tidak dingin-dingin baget. Alhasil ini akibatnya.
Untuk menuju ke terminal metro, kita harus turun ke bawah tanah. Lumayan suhu di bawah masih bisa diajak kompromi.  Sambil berjalan ke arah stasiun metro kami mampir ke swalayan. Eh nemu Indomie dong. Mendunia banget mie satu ini. Oke lanjut, sesampainya di metro kami harus menunggu beberapa jam karena memang jam operasinya mulai jam 06.00 pagi. Sama layaknya menaiki rlt di Jakarta yang baru beroperasi bulan ini, bagi semua penumpang harus membuat kartu terlebih dahulu. Biayanya sebesar 10TL atau sekitar 30.000 jika dirupiahkan. Untuk pembuatannya memang cepat, tetapi membutuhkan pemahaman yangn jeli karena instruksi dalam bahasa inggrisnya terletak di atas mesin dan ukuran yang kecil.
Istanbul Kart sudah ditangan, akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan ke Terminal Ottogar. Ottogar merupakan salah satu terminal terbesar di Istanbul untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai daerah yang tidak bisa diakses menggunakan kereta. Untungnya kesan acuh masyarakat Turki tidak saya temukan disini. Entah ini hanya prasangka saya saja atau bagaimana. Yang jelas hal tersebut yang saya alami. Hal ini terlihat ketika saya bertanya kepada orang-orang sana tempat untuk membeli tiket bus, mereka langsung manghantarkan saya ke beberapa loket beserta membawakan koper. Awalnya sih was-was kirain dianya mau nipu atau mau minta bayaran. Haha. Kami sempat keluar masuk agen bis karna tiket dengan tujuan yang kami cari dengan jadwal keberangkatan paling pagi sudah habis. Dengan keterbatasan bahasa, akhirnya kami mendapatkan tiga tiket bis menuju Safranbolu. Lega sih, apalagi petugas agennya lebih kece daripada oppa oppa korea yang sering dilihat di layar kaca. Menyejukkan.

Kami mendapat tiket dengan jadwal keberangkatan paling pagi yakni pukul 08.00. Jangan dikira pukul 08.00 waktu Turki ini kita sudah bisa menikmati kehangatan cahaya matahari, masih gelap layaknya pukul 04.00 pagi waktu Indonesia. Selagi menungu, Fitra yang katanya ketika dijalan menemukan penjual nasi mengajak untuk membelinya. Terbelilah nasi yang dari penampilannya mirip dengan nasi goreng ini. Setelah dimakan, eh engga cocok dengan lidah kami bertiga karena rasanya lebih tepat dinamakan “nasi goreng kemarin lusa”. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, didukung dengan suara perut yang tidak mau diajak kompromi tetap dimakanlah akhirnya.
Pukul 08.00 tepat bis menuju Safranbolu berangkat. Dengan tiket seharga 75 TL per orang kami sudah bisa menikmati fasilitas seperti wifi, softdrink dan makanan ringan khas Turki. Perjalanan Istanbul – Safranbolu memerlukan waktu tempuh sekitar 7 jam. Lama kan. Iya bener sampai kami berada dititik bosan. Untungnya sih ketolong dengan keberadaan wifi yang bisa mengalihkan semua. Sesampainya di terminal besar Safranbolu kami segera menghubungi pihak Airbnb, tempat dimana saya, fitra dan mba luki memesan penginapan.  Apa yang terjadi ? untuk menuju penginapan yang terletak di Bartin (ternyata) kami diharuskan menaiki bus lagi sekitar 2 jam.  Kaget, iya. Mau gimana lagi, semua sudah terjadi.
Setelah berhasil menghubungi pemilik housetel, beliau memberikan arahan kepada kami bertiga yang tidak tahu apa-apa ini untuk menuju terminal kecil guna membeli tiket bus ke Bartin. Tiga tiket ke Bartin sudah di tangan. Siap meluncur satu jam lagi. Entah apa yang saya fikirkan, tiba-tiba saya mengirim pesan kepada salah satu ketua PPI dan menanyakan money charger terdekat dengan daerah saya sekarang. Karena memang kami bertiga hanya menukarkan sebagian uang saja dan ternyata persediaan uang Lira sudah menipis. Tanpa menunggu apa-apa saya langsung mengirimkan pesan kepada kontak yang sudah diberikan.
Setelah berhasil menghubungi pemilik housetel, beliau memberikan arahan kepada kami bertiga yang tidak tahu apa-apa ini untuk menuju terminal kecil guna membeli tiket bus ke Bartin. Tiga tiket ke Bartin sudah di tangan. Siap meluncur satu jam lagi. Entah apa yang saya fikirkan, tiba-tiba saya mengirim pesan kepada salah satu ketua PPI dan menanyakan money charger terdekat dengan daerah saya sekarang. Karena memang kami bertiga hanya menukarkan sebagian uang saja dan ternyata persediaan uang Lira sudah menipis. Tanpa menunggu apa-apa saya langsung mengirimkan pesan kepada kontak yang sudah diberikan.
“Pertolongan Allah datang disaat yang tepat”.
Si teteh (setelah berbincang selama di Safranbolu saya sepakat untuk memanggilnya teteh) ternyata tinggal di dekat kampus dimana kegiatan kami diadakan. Teteh langsung menelfon saya dan berceritalah saya tentang apa yang terjadi dengan kami bertiga. Oh iya, orang yang saya panggil teteh ini adalah orang asli Sunda yang kemudian memutuskan menikah dengan orang Turki 8 tahun lalu.
Setelah tau kami bertiga akan menginap di Bartin, tetah langsung menyuruh kami untuk membatalkan saja dengan berbagai pertimbangan yang dirasa tidak efesien.  Si teteh yang kebetulan juga memiliki housetel menganjurkan kami untuk menginap disana. Berdiskusilah saya, fitra dan mba luki untuk mengambil langkah terbaik, akhirnya kami terima tawaran dari teteh. Untuk pergi ke tempat teteh sebenarnya  bisa ditembuh dengan berjalan kaki, hanya sekitar 20 menit. Tapi karena kondisi kami yang sudah capek belumlagi harus membawa koper kami memutuskan untuk naik taksi saja.
Benar saja sesampainya di tempat, kami disambut hangat oleh keluarga kecil ini. Usai “diinterogasi” panjang, dan ternyata teteh kenal dengan dekan yang mana juga menjadi ketua pelaksana kegiatan yang kami ikuti, diajaklah kami untuk bertemu pada esok hari. Kemuadian kami langsung diarahkan untuk ke ruang dimana kami akan beristirahat. Iya, kami bertiga menyewa satu lantai di rumah teteh yang mirip dengan apartement itu. Akhirnya kami bisa mandi pasca perjalanan 2 hari. Hehehe




Hingga akhirnya kami dipertemukan langsung dengan Dekan salah satu fakultas di Karabuk University.
To be continue ààà
Maret 14, 2019 No komentar

Bagian satu
Karena tidak mungkin saya tulis langsung, maka untuk perjalanan kali ini akan saya posting dalam beberapa bagian

“Kadang kamu meminta sesuatu pada Allah, tapi Allah kasih bukan yang kamu minta. Tapi yang terbaik untukmu.”
November 27, 2018 No komentar


Bulan September tahun lalu (2017) saya mendapat kesempatan untuk bergabung dalam tim Ekspedisi Nusantara Jaya yang diselenggarakan oleh Kemenko Bidang Maritim. Bersama ke dua puluh tiga mahasiswa Universitas Airlangga lainnya kami ditugaskan untuk hidup bersama masyarakat di tiga pulau. Pulau Mandangin, Pulau Masalembu dan Pulau Masakambing.

Sebagai orang awam yang baru pertama kali mendengar nama pulau tersebut pasti merasa asing. Demikianpun saya. Perjalanan menuju Pulau Masalembu membutuhkan waktu sekitar 18 jam dengan kapal “Sabuk Nusantara”. Ya, kapal adalah satu-satunya transportasi yang bisa digunakan, itupun hanya ada sekali dalam seminggu. Artinya ketika kalian-kalian semua ingin pergi kesana, minimal harus living selama satu minggu menunggu kedatangan kapal untuk kembali ke Surabaya.

Sebelum memutuskan untuk akhirnya berangkat, ada banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Seperti, waktu keberangkatan yang bebarengan dengan jadwal UTS. Otomotis jika saya berangkat dalam kegiatan tersebut saya harus siap untuk UTS susulan dan harus mengurus birokrasi kampus yang cukup membuat berat badan turun akibat naik turun tangga yang semakin sering.  JJJ selanjutnya sudah rahasia umum terkait letak keberadaan Pulau Masalembu dan Pulau Masakambing, dimana kedua pulau tersebut terletak di segitiga versi Indonesia. Banyak kapal yang karam disana, saya pun ketika perjalanan melihat dengan mata sendiri bangkai kapal tersebut, kata orang nyawa sebagai taruhan jika pergi kesana. Banyak juga pertanyaan semacam “Yakin mau kesana ?”, “Kamu harus belajar berenang, buat persiapan kalau ada apa-apa.”, dan pertanyanyan semacam lain.

Keinginan untuk mengabdi kepada negeri jauh lebih besar sehingga perasaan ragu, bimbang lama kelamaan terkikis. Hingga pada akhirnya saya bersama ke dua puluh tiga mahasiswa laiinnya berangkat. Check in di Pelabuhan tanjung Perak Surabaya sekitar pukul 11 siang. Karena kapal yang saya naiki berlayar sekitar pukul 4 sore, maka untuk mengisi waktu luas setelah selesai check in bersama teman-teman lain memindahkan barang barang yang cukup banyak ke kapal. Baju bekas, makanan pokok, buku dan barang-barang donasi lainnya. Pengalaman berada di kapal selama delapan belas jam tentu menarik untuk diabadikan. Lima jam pertama saya masih merasa baik-baik saja. Karena ombak yang belum terlalu besar, memasukin jam-jam selanjutnya pusing dan mual mulai menghampiri sampai puncaknya ketika akan sampai ke Pulau Masalembu, ombak yang semakit besar membuat saya dan teman-teman memutuskan untuk tidur untuk menahan keinginan untuk mengeluarkan isi perut. Hihihi

Sesampainya di dermaga, perasaan takjub akan keindahan pulau yang masih murni dengan kealamiannya, puluhan warga sekitar yang menyambut kedatangan kami dengan senyum ramahnya, serta deburan air laut seolah ikut berbahagia. Eeiitts perjalanan belum usai, setelah saya sampai di Pelabuhan Masalembu perjalanan masih berlanjut untuk menuju ke Pulau Masakambing. Butuh waktu sekitar dua jam dengan perahu kecil untuk sampai kesana. Setelah selesai mengangkut barang-barang kami dari kapal kemudian dipindahkan ke perahu kecil perjalananpun segera dilanjutkan. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya bersama teman-teman berdecak kagum akan keindahan pulau ini. Melihat karang putih yang menampakkan di perkuaan laut dengan panjang yang luar biasa. Sesekali saya mendongakkan kepala ke bibir perahu, menyelupkan tangan ke air laut yang jernih itu.

Sesampainya di Pulau Masakambing sambutan anak-anak disana cukup meriah, gelak tawanya membuat kami lupa akan rasa lelah mengarungi laut. Pak Usman adalah bapak angkat kami selama kami tinggal disana. Beliaulah yang membantu kami untuk mengurus segala hal. Beliau jugalah yang merelakan rumahnya untuk kami tinggali selama kurang lebih 14 hari. Keesokan harinya kegiatan pertama kami adalah pembukaan di Balai Desa Pulau Masakambing yang dihadiri oleh Bapak Kepala desa serta para jajarannya. Jarak rumah Pak Usman ke balai desa cukup membuat balsem geliga yang kami bawa habis untuk mengurut kaki. 5 KM, yang berarti untuk pulang pergi saya harus berjalan 10 KM. Tidak hanya balai desa yang jaraknya jauh tetapi juga sekolah dasar (SD). Jalan setapak dengan pohon kelapa, randu, sampai siulan burung yang selalu menemani perjalan ini di setiap harinya.
Bagian pertama dari sebuah perjalanan J

Februari 12, 2018 No komentar

Prolog
Foklore seperti apa yang dikatakan oleh Prof. James memiliki cakupan yang sangat luas. Foklore tidak sama dengan tradisi lisan, baginya cakupan tradisi lisan sangat kecil, hanya berupa cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyanyian rakyat. Lebih dari itu, foklore memiliki cakupan yang lebih luas yang didalamnya termasuk tarian rakyat dan arsitektur rakyat.[1] Salah satu foklore yang terkenal di kalangan anak-anak adalah cerita rakyat.
Cerita rakyat sudah menjadi bagian dari khazanah budaya dan sejarah yang dimiliki oleh setiap bangsa termasuk Indonesia. Cerita rakyat juga bisa diartikan sebagai bentuk dari ekspresi budaya suatu masyarakat melalui tutur bahasa yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya serta nilai sosial dari masyarakat tersebut. Berbicara mengenai foklore
Februari 08, 2018 No komentar
Bercermin pada Arek Suroboyo : Menjawab Tantangan Multikultural untuk Mewujudkan Masyarakat Damai sesuai SDGs

                                              





Diusulka oleh :

Dina Stevany Ernayasari                 121511433007                        2015
Laras Setyaningsih                            121511433046                        2015
Nia Nur Malasari                              121511433073                        2015


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang proses integrasi antar etnis, khususnya antara pemuda (arek) Surabaya yang memiliki latar belakang perbedaan etnis berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yakni melalui studi literatur serta interview. Penelitian ini menggunakan sample lokasi di Surabaya, khusunya arek Surabaya yang sedang menempuh pendidikan di bangku universitas. Kesimpulan hasil penelitian ini antara lain bahwa tingkat pluralitas yang tinggi di Surabaya tidak berakibat pada adanya diskriminatif persoalan etnis, agama maupun pada tingkat kesejahteraan sosial. Kondisi seperti ini disebabkan karena faktor sejarah dari kota Surabaya sendiri serta kesediaan dalam menerima perbedaan sebagai sebuah keniscayaan. Dukungan dari Pemerintah Kota Surabaya dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pluralitas sebagai usaha pemerintah dalam mempertahankan multikulturalisme arek Surabaya.
Kata kunci : Arek, Surabaya, Multikultural, Etnis
Februari 08, 2018 No komentar

Meminjam perkataan dari tokoh Indonesia, Bapak B.J Habibie bahwa “Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain.”
Bersama 137 pemuda Indonesia yang berasal dari sabang sampai merauke saya dipertemukan dalam sebuah event nasional bernama “Youth Adventure Day 2017” pada tanggal 17-19 Maret di Kebun Buah Mangunan Yogyakarta.
Sedikit flashback yang menghantarkan saya sampai di tempat ini. Awalnya saya mengetahui info mengenai info ini dari seorang teman SMA yang sekarang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta
Juli 04, 2017 No komentar
Haloooooo
Udah lama banget nih, ga ada postingan baru. Eitssss tenang aja abis ini selalu ada hal baru yng bakal di ekspose kok. Nih spesial buat para pembaca setia J (emang ada ????)
Aku menemukannya dengan sebuah ketidaksengajaan...
Penuh sesak kota Surabaya-lah yang mempertemukan kami. Ya kami ber-empat. Dengan sifat yang berbeda. Dengan golongan darah yang berbeda pula. Hehehehe.....  Laras, gadis asal Ngawi yang awal aku dipertemukannya kalo ngomong pakek bahsa lo gue, yang bisa dibilang paling tomboy diantara kami ber-empat, but dia juga yang paling ahli kalo ngasih petuah. Sebut aja dia psikolog abal-abal. Next, Selvi. Gadis berbehel ini asal Gresik. Dia yang paling fashionable. Dia paling peduli soal penampilan. Tapi juga yang sifatnya paling nyebelin. Yang ketiga Tanti, dia asal Pasuruhan. Komting kami. Sejarah 2015. Calon pengusaha sekaligus desainer terkenal yang sekarang lagi kena skandal percintaan. :D Dan yang terakhir aku. Perkenalkan, namaku Nia asal Tulungagung. Yang kata temen-temenku aku yang gayanya paling syar’i. Sssstttt jangan salah paham dulu. Aku welcome kok sama siapa aja.

November 29, 2016 No komentar
Dinamika Pajak dan Tanah di Yogyakarta pasca 1945
            Perubahan sosial yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun sangat banyak dan meliputi hampir semua bidang kehidupan masyarakat. Sekedar untuk menyebutkan beberapa contoh yakni kekuasaan pemerintahan Belanda diganti kekuasaan Jepang dan kemudian pemerintahan nasional, kedudukan golongan Belanda sebagai upper class
November 18, 2016 No komentar

Sesungguhnya mudah bagi seseorang meninggalkan dosa-dosa besar, namun ada beberapa dosa yang bersifat halus
Januari 11, 2014 No komentar

17 Fakta Luar Biasa Prestasi Anak Bangsa


November 18, 2013 No komentar

ISLAM DAN DUNIA REMAJA

Islam dan Dunia Remaja. Sebenarnya apa sih hubungan islam dan dunia remaja itu? Memang ada hubunganya ya? Sebelum kita membahas itu, bagaimana sih remaja di mata Islam itu dan Islam di mat
November 18, 2013 No komentar

About me

 


I am a graduate with a Bachelor’s degree in Humanities from History Science major at Universitas Airlangga. Furthermore, I am committed, determined and persistent person who always eager to learn more and overcoming challenges by going the extra miles that also capable and enjoy to work both as a team player or independent accordingly to the demand of the task or situation given.

Follow Us

Labels

Artikel Coretan Pribadi History Journey karya tulis Remaja Turkey

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2019 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • “PertolonganNya datang disaat yang tepat”.
  • ►  2018 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2016 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2014 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  November (2)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose